Kamis, 05 Juli 2018

Satu dari 860.001 Pejuang SBMPTN 2018

Prakata

Puji syukur kupanjatkan kepada Tuhan Yesus, karena kebesaran-Nya aku dapat lolos pada seleksi SBMPTN 2018. Terima kasih kepada semua pihak yang selalu mendukungku selama ini, selalu meyakinkan aku kalau aku pasti bisa menaklukan soal SBMPTN tahun ini. Dan khususnya aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua ku khususnya Mama yang selalu menjadi pahlawan di keluargaku, kepada kakakku yang selalu memberikan tamparan padaku karena kepintarannya sehingga aku berusaha keras untuk mengimbangi otaknya. Kepada guru pembimbingku, Bu MC. Indri Wahyuningsih, S.Pd. yang telah menyemangati anak-anaknya tanpa pamrih sedikitpun. Terima kasih kepada teman-teman seperjuanganku yang tidak henti-hentinya mengajakku untuk terus berusaha dan berdoa dengan keras sehingga akhirnya aku dapat benar-benar meraihnya. Terima kasih kepada salah satu teman seperjuanganku, Chatarina Dinda Dewi Dewani, yang telah bersama aku selama berjuang mencari perguruan tinggi, mulai dari merasakan bersama bagaimana hancurnya ketika tidak lolos seleksi PSSB salah satu universitas swasta di Yogyakarta, hingga sampai pada pengumuman SBMPTN walaupun jalan kita berbeda, tapi aku percaya kamu pasti tetap dapat meraihnya walaupun melalui jalur yang berbeda denganku. Terima kasih kepada sahabatku Adisty Putri Ramadhani yang lolos di seleksi SNMPTN sehingga membuatku merasa ditampar dan aku berusaha lebih keras lagi, dan juga karena kamu selalu membagikan informasi terkait SBMPTN kepadaku. Terima kasih kepada semuanya yang tidak dapat aku sebut satu persatu, kalian berpengaruh besar terhadap pencapaianku ini.
Aku masih saja tidak menyangka ketika aku membaca hasil seleksiku kemudian aku menangis. Menangis bahagia. Setelah penantianku bersama 860.000 orang lainnya, akhirnya aku dapat meraih keberhasilanku. Aku tau ini bukan final, ini adalah awal dari segalanya, namun biarkan diriku merasakan euforia luar biasa ini sejenak.


Satu dari 860.001 Peserta SBMPTN

Ketika pendaftaran SBMPTN 2018 telah ditutup, aku merasa sangat terkejut saat melihat total peserta SBMPTN sebanyak 860.001 orang, berarti aku melawan 860.000 orang lainnya untuk memperebutkan hanya sekitar 100.000 kursi. Bila melihat kemampuanku yang pas-pasan ini, aku tidak sepenuhnya yakin, namun aku ingat bahwa aku memiliki Tuhan yang lebih besar dari apapun.
Kecemasanku mencapai puncaknya ketika aku keluar dari ruang tes. Bukannya menjadi lega, malah aku merasa sedang dalam mimpi burukku. Aku telah mengerjakan tes dengan gemetar luar biasa. SOAL-SOALNYA TIDAK SEMUDAH LATIHAN SOAL YANG BIASA AKU KERJAKAN. Dari situlah semangatku punah. Aku tidak yakin akan lolos, sehingga ketika sampai di rumah, hal pertama yang aku katakan pada Mama adalah, "Ma, jangan sedih ya kalau besok aku gak lolos. Aku gak bisa ngerjain tesnya." Aku membendung air mataku dengan sekuat tenaga.
Setiap kali membahas tentang kuliah, aku merasa sedih dan putus asa. Pernah suatu hari aku berkata pada Mama, "Ma, kalau misal tahun ini aku gak bisa kuliah yaudah gakpapa, Ma. Aku kerja dulu aja gakpapa kok." Sejujurnya air mataku sudah benar-benar hampir menetes, namun aku tidak ingin menambah beban Mama. (Bahkan sekarang pun aku mengetik ini sambil meneteskan air mata.)
Aku menunggu pengumuman final dengan cemas dan tidak berani berharap lebih. Bahkan aku menjadi jarang berdoa khusus untuk kuliahku, padahal biasanya aku setiap hari berdoa Novena khusus untuk kuliahku. Karena harapanku seperti hilang entah kemana, aku hanya menyelipkan sedikit doa sebelum tidur, "Tuhan, semoga Devina bisa berkuliah di universitas negeri tahun ini. Tapi bila Devina harus bekerja dulu tahun ini, akan Devina ikhlaskan." Aku berdoa seperti itu tanpa menyebut nama universitas yang aku inginkan. Sejujurnya aku tidak ikhlas, namun aku tidak berani menuntut apapun.


Satu dari 168.831 Peserta SBMPTN yang Lolos

Hari itu pun tiba. Selasa, 3 Juli 2018. Aku benar-benar tidak siap menghadapinya. Aku berusaha melupakan hal itu, hingga akhirnya beberapa menit sebelum pengumuman hasil seleksi diluncurkan, salah satu teman seperjuanganku, Nur Alifah, mengingatkanku bahwa delapan menit lagi pengumuman akan diterbitkan. Damn! Aku baru tahu kalau pengumumannya dimajukan dua jam, seharusnya jam lima sore tapi akhirnya menjadi jam tiga sore. Delapan menit lagi.
Setelah jam tiga sore, aku berusaha menguatkan mentalku agar tidak hancur ketika pengumuman yang aku terima adalah kegagalan. Aku mulai siap mengikhlaskan segala kemungkinan yang akan aku terima. Aku membuka web pengumuman SBMPTN dengan tangan gemetar, sama seperti ketika aku mengerjakan soal tes SBMPTN. Gemetar dan ingin menangis. Setelah web berhasil terbuka, aku memasukkan nomor peserta dan tanggal lahirku, dengan menyebut nama Tuhan di dalam hatiku berulang kali, aku menguatkan tanganku untuk menekan tombol "Lihat Hasil".
Nihil.
Aku tidak dapat melihatnya.
Aku mencoba berulang kali.
Tidak bisa ditekan
Tiga puluh menit berlalu. 
Tetap tidak dapat kutekan. 
Aku sempat berfikir apakah sebaiknya aku meminta bantuan temanku untuk membukakannya? Yasudah, karena rasa cemasku telah sampai di ujung tanduk, aku memutuskan untuk meminta tolong pada teman seperjuanganku, Delina Firdaus, yang ternyata lolos di universitas yang sama dengan yang aku inginkan. Sedetik setelah aku meminta tolong Nana, aku menyesal. Kenapa aku meminta tolong pada temanku yang lolos? Bodoh. Aku akan benar-benar malu bila aku tidak lolos.
Ah, bodoamat. Aku tidak memikirkan gengsiku lagi. Yang ada di otakku saat itu hanyalah kuliah atau tidak.
Nana mengirim screen shot hasil seleksiku. Sial, kenapa lagi ini, kenapa jaringannya sangat lambat? Hingga akhirnya gambar itupun berhasil aku unduh. Tunggu sebentar, apakah ini hanya halusinasiku? Aku melihat kata-kata 'SELAMAT'. Seriously????
Aku membaca lebih cermat lagi sambil mengedip-kedipkan mataku. Benar, Devina Renata! Benar juga, UPN 'Veteran Yogyakarta'.
Hingga akhirnya aku berteriak "MAAAA!!!! SELAMAT!!!!"
Mama yang sedang berada di dapur langsung berlari menghampiriku sambil ikut berteriak, "SELAMAT, VIN????? PUJI TUHAAANNNNNNN! PUJI TUHANNN!!!!!!" Mama langsung memelukku, menciumku, bahkan Mama ikut menangis sambil terus mengucap 'Puji Tuhan'.
Aku masih tidak percaya, aku masih bingung, aku masih merasa kaget.
Beberapa menit kemudian aku merasakan goosebumps (merinding) di sekujur tubuhku di bagian kanan. Aku tahu itu Papa. Aku tahu Papa hadir saat itu turut bahagia. Anaknya akan menjadi Sarjana suatu saat nanti.
Mungkin itu hanyalah halusinasiku, namun aku menyapa Papa, ada ataupun tidak ada nya beliau saat itu di sekitarku. Teruntuk almarhum Papaku tercinta, anakmu akan menjadi mahasiswi. Mohon doanya, Pa. 


Satu dari 29.475 Pendaftar UPN 'Veteran' Yogyakarta

Ternyata yang mendaftar di UPNVY tidaklah sedikit. Walaupun terhitung baru, universitas negeri ini mampu menggaet 27.475 orang untuk mendaftar di sini. Wow. Aku menjadi salah satu orang yang menempatkan UPNVY menjadi pilihan pertamaku. Ternyata itu adalah cara Tuhan menuntunku untuk lebih dekat dengan impianku. Terima kasih Tuhan, aku menjadi salah satu dari puluhan ribu orang yang mendaftarkan dirinya di UPNVY. 


Satu dari 3.282 Pendaftar Prodi Manajemen UPNVY

Pada 3 Juli 2018 itu juga, website UPNVY menerbitkan artikel tentang SBMPTN UPNVY, dan aku dikejutkan dengan data yang menyebutkan bahwa prodi Manajemen adalah prodi yang menempati peringkat pertama dengan jumlah pendaftar terbanyak, yaitu sebanyak 3.282 orang. Dan Devina menjadi salah satunya. 


Satu dari 1.214 yang Lolos di UPN 'Veteran' Yogyakarta melalui SBMPTN 2018

Ternyata kebanggaanku tidak berhenti sampai di sana, aku berhasil menjadi salah satu di antara 1.214 orang yang lolos di UPNVY, dan menjadi salah satu orang yang menangis bahagia karenanya.


Satu dari 143 Maba Prodi Manajemen UPNVY Jalur SBMPTN

Pagi ini, Rabu, 4 Juli 2018 tidak lupa Mama membeli koran untuk melihat nama anaknya yang tertera di koran. Setelah dihitung, yang lolos jalur SBMPTN pada jurusan yang sama denganku adalah sebanyak 143 orang. Ya, dari 1.214 orang, 143 orang diantaranya adalah peserta yang lolos pada jurusan Manajemen. Semoga semua di antara kami mengambil kesempatan emas ini dan tidak menyia-nyiakannya, karena ada ribuan orang lainnya yang memperebutkan posisi kami.


Sedikit Cerita Tambahan

Aku jadi teringat kata-kata teman seperjuanganku, Eilen Floretta Br. Ginting, "Dear myself, so proud of you!" Ya, dia juga lolos di universitas yang sama denganku. Aku setuju dengannya. Betapa bangganya diriku menjadi salah satu di antara mereka yang menangis karena rasa bahagia, bukan kecewa. Aku yang pernah dikecewakan oleh salah satu universitas swasta kini dapat membuktikan bahwa aku dapat meraih sesuatu yang lebih baik lagi. Aku teringat juga kata-kata guru Bahasa Inggris di SMA ku, "Universitas gak cuma di sana! Kamu gak lolos di swasta, mungkin aja kamu ditakdirin kuliah di negeri, siapa yg tau???" saat itu aku meremehkan kata-kata beliau, ketika aku masih menangis aku menjawab dengan tawa melecehkan, "Ma'am, saya di univ swasta aja gak lolos, apa lagi di negeri"
Ya, aku membuktikan kepada beliau bahwa kata-kata beliau adalah BENAR. Tidak semua siswa/siswi lulusan SMA swasta akan lanjut kuliah di swasta, masih ada peluang yang besar untuk mereka melanjutkan studi ke universitas negeri yang mereka impikan. Ada banyak orang yang berkata bahwa kuliah di mana pun sama saja tergantung orang yang menjalaninya. Percayalah teman, khususnya adik-adik kelasku, memang kalimat tersebut ada benarnya, namun ketika kalian berkuliah di universitas impian kalian apalagi universitas favorit, akan berbeda. Kalian berada di lingkungan yang berbeda dan kalian dikelilingi oleh orang-orang dengan kemauan besar untuk sukses. Dengan berada di lingkungan yang positif semacam itu, otomatis kita menjadi orang yang positif juga. Lagipula, di dunia kerja akan berpengaruh besar mengenai kalian lulusan mana, akreditasinya apa, jurusan apa, dan IPK kalian berapa.
Percayalah, orang yang bergaul dengan penjual ikan pasti akan ikut berbau amis, dan sebaliknya, mereka yang bergaul dengan penjual parfum pasti akan ikut menjadi harum.

Ada banyak tantangan bagiku untuk masuk di prodi impianku ini. Setelah aku mengunci data peserta SBMPTN, aku diomeli oleh kakakku, "Vina kok ngambilnya manajemen sih, dah tau kalo manajemen itu prodi seribu umat, peluangnya kecil, mbok ya daftar yang peluangnya besar." Aku langsung berfikir, oh iya ya, sok-sokan banget aku.
Kemudian orang-orang yang beranggapan bahwa untuk menjadi manajer atau pengusaha itu tidak harus berkuliah di jurusan tersebut.
Ya memangnya kenapa? Aku mencintai bidang ini dan ingin mendalaminya.

One step closer to grab my dreams ✨

Satu dari 860.001 Pejuang SBMPTN 2018

Prakata Puji syukur kupanjatkan kepada Tuhan Yesus, karena kebesaran-Nya aku dapat lolos pada seleksi SBMPTN 2018. Terima kasih kepada...